JAKARTA, CITRAMEDIA — Waktu boleh berjalan hampir empat dekade, rambut boleh mulai memutih, dan kesibukan hidup boleh membawa setiap orang ke jalan yang berbeda. Namun, ada satu hal yang rupanya tak lekang oleh waktu: kenangan tentang masa sekolah dan persahabatan yang pernah tumbuh di dalamnya.
Semangat itulah yang terasa dalam temu kangen alumni SMP Negeri 216 Jakarta angkatan 1988, yang berlangsung di Hotel Balairung, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Sabtu (24/10/2026). Pertemuan ini bukan sekadar ajang melepas rindu, melainkan juga menjadi langkah awal mempersiapkan reuni 40 tahun yang direncanakan berlangsung pada 2028 mendatang.
SMPN 216 Jakarta sendiri berlokasi di Jalan Salemba Raya No. 18, Jakarta Pusat. Bagi para alumninya, sekolah tersebut bukan cuma bangunan tempat menimba ilmu, melainkan juga ruang tempat persahabatan dirintis, kenakalan remaja dikenang, dan cerita kehidupan mulai ditulis.
Hastutiningsih, yang akrab disapa Iin, ibu rumah tangga sekaligus Ketua OSIS SMPN 216 periode 1987–1988, mengungkapkan bahwa temu kangen kali ini memiliki arti penting bagi keberlanjutan hubungan ant alumni.
Menurut Iin, pertemuan tersebut menjadi ajang silaturahmi sekaligus momentum awal untuk mempersiapkan reuni 40 tahun angkatan 1988 pada 2028.
Baginya, menjaga hubungan setelah puluhan tahun bukan perkara otomatis. Persahabatan yang pernah begitu dekat saat masih berseragam putih biru tetap membutuhkan kemauan untuk saling menyapa, meluangkan waktu, dan membuka kembali ruang kebersamaan.
Iin juga mengingatkan bahwa alumni angkatan 1988 memiliki jumlah yang cukup besar. Angkatan tersebut terdiri atas 15 kelas, dengan jumlah siswa diperkirakan berkisar 500 hingga 600 orang.
Besarnya jumlah alumni itu menjadi potensi sekaligus tantangan tersendiri. Sebab, mengumpulkan teman-teman yang kini memiliki kesibukan, profesi, dan tempat tinggal berbeda tentu membutuhkan komunikasi serta koordinasi yang baik.
Dari reuni akbar hingga kepedulian sosial
Kebersamaan alumni SMPN 216 Jakarta angkatan 1988 bukan tanpa rekam jejak. Pada 2013, mereka pernah menggelar reuni akbar yang dirangkaikan dengan kegiatan bakti sosial berupa santunan kepada anak yatim piatu.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa reuni tidak harus berhenti pada pertemuan, makan bersama, dan bertukar cerita masa lalu. Ada kesempatan untuk menjadikan persahabatan sebagai kekuatan yang memberi manfaat bagi orang lain.
Sebab, nostalgia memang menyenangkan. Namun, ketika kenangan mampu melahirkan kepedulian, persahabatan memperoleh makna yang lebih dalam.
Di tengah kehidupan yang semakin individualistis, semangat seperti ini patut dipertahankan. Hubungan lama tidak semestinya hanya aktif ketika ada acara besar, tetapi juga hadir dalam keseharian melalui perhatian, dukungan, dan kepedulian sederhana.
Nama Anggun C. Sasmi, penyanyi yang dikenal luas di tingkat nasional maupun internasional, juga menjadi salah satu kebanggaan yang berkaitan dengan SMPN 216 Jakarta. Anggun merupakan alumni angkatan 1989, satu angkatan di bawah para alumni yang tengah mempersiapkan reuni tersebut.
Ferly didaulat menjadi Ketua Panitia Reuni 40 Tahun
Dalam pertemuan itu, Dwi Musli Ferly, yang akrab disapa Ferly, seorang pengusaha dan pelaku bisnis investasi, didaulat menjadi Ketua Panitia Reuni 40 Tahun Alumni SMPN 216 Jakarta Angkatan 1988 yang direncanakan pada 2028.
Ferly berharap reuni mendatang dapat menghadirkan lebih banyak alumni dibandingkan pertemuan-pertemuan sebelumnya. Baginya, keberhasilan reuni bukan semata-mata diukur dari kemeriahan acara, melainkan dari semakin kuatnya hubungan antarteman setelah acara selesai.
Ia berharap silaturahmi dapat terus terjaga, para alumni saling mendukung, serta tetap saling memberi kabar mengenai kondisi dan perkembangan kehidupan masing-masing.
Harapan tersebut terdengar sederhana, tetapi justru di situlah inti sebuah persahabatan diuji. Sebab, terkadang yang dibutuhkan seorang teman bukanlah bantuan besar, melainkan kesediaan untuk mendengar, menguatkan, atau sekadar bertanya, “Apa kabar?”
Silaturahmi perlu dijaga bersama
Senada dengan harapan tersebut, Sindhu Rahadian Ardita, pegawai BUMN sekaligus alumni SMAN 1 Jakarta, menekankan pentingnya menjaga silaturahmi secara berkelanjutan.
Menurut Sindhu, para alumni perlu membiasakan diri untuk terus memperbarui informasi mengenai kondisi masing-masing, saling memberikan dukungan, dan mengambil peran dalam menjaga kebersamaan.
Ia berharap tidak ada alumni yang merasa hanya menjadi penonton dalam perjalanan komunitasnya sendiri. Setiap orang, dengan kemampuan dan kesempatan yang berbeda, tetap dapat memberikan kontribusi.
Pesan ini menjadi relevan ketika sebuah angkatan memasuki usia persahabatan yang hampir empat dekade. Waktu telah mengubah banyak hal. Ada yang sukses dalam karier, ada yang mengabdikan diri kepada keluarga, ada pula yang sedang menghadapi tantangan hidupnya sendiri.
Namun, di antara semua perbedaan itu, mereka tetap memiliki satu titik temu: pernah tumbuh bersama di sekolah yang sama.
Reuni 40 tahun pada 2028 mendatang pun diharapkan menjadi lebih dari sekadar agenda berkumpul. Ia dapat menjadi ruang untuk mempererat persaudaraan, membangun jejaring saling mendukung, serta meneruskan kepedulian sosial yang pernah diwujudkan dalam kegiatan bakti sosial pada 2013.
Pada akhirnya, usia persahabatan tidak ditentukan oleh berapa lama seseorang tercatat sebagai teman, melainkan oleh seberapa jauh hubungan itu tetap dirawat.
Empat puluh tahun adalah perjalanan panjang. Tetapi bagi mereka yang pernah berbagi bangku sekolah, mungkin rasanya baru kemarin bel berbunyi, guru memasuki kelas, dan masa depan masih tampak seperti halaman kosong yang menunggu untuk ditulisi.
Kini, halaman itu telah dipenuhi cerita kehidupan. Temu kangen ini menjadi kesempatan untuk membacanya kembali—bukan untuk kembali menjadi remaja, melainkan untuk memastikan bahwa persahabatan yang tumbuh ketika muda tetap memiliki tempat dalam kehidupan hari ini.
Karena reuni yang baik bukan hanya tentang siapa yang datang, tetapi juga tentang siapa yang tetap peduli, bahkan setelah acara usai.
