CitraMedia

Wisata Keberagaman RW 10 Pancoran Mas: Ketika Perbedaan Dibawa Jalan-Jalan

s

DEPOK, Citramedia- Keberagaman rupanya tak selalu harus dibicarakan dalam forum resmi, di balik meja rapat, atau lewat spanduk yang kalimatnya sering lebih panjang daripada pesannya. Kadang, keberagaman justru lebih mudah dirawat sambil jalan-jalan, makan bersama, bermain, tertawa dan menikmati angin laut.
Itulah yang dilakukan warga RW 10 Kelurahan Pancoran Mas, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok, yang dikenal dengan sebutan Kampung Sengon, Sabtu (22/8/2026).
Mengikuti program Wisata Keberagaman Pemerintah Kota Depok di bawah kepemimpinan Wali Kota Supian Suri periode 2024–2029, warga RW 10 melaksanakan kegiatan wisata ke Pandai Batu Saung, Anyer, Banten.
Kegiatan yang mengusung tema “Beragam, Bersatu, Harmonis” itu dipimpin langsung Ketua RW 10, Arif Mukhlis. Para ketua RT, tokoh masyarakat, ibu-ibu penggerak Posyandu dan PKK, Karang Taruna serta berbagai unsur masyarakat ikut ambil bagian.

Regi alias Arif Mukhlis, Ketua RW 10 Kelurahan Pancoran Mas memimpin giat wisata keberagaman di Pantai Baru Saung Anyer Banten. (Foto : elang)

Di sinilah menariknya. Keberagaman tidak berhenti sebagai kata benda. Ia dibawa menjadi kata kerja: bertemu, berbicara, bermain, tertawa dan saling mengenal.
Arif Mukhlis, yang akrab disapa Regi, mengatakan kegiatan tersebut diharapkan tidak sekadar menjadi agenda rekreasi warga.
Menurutnya, wisata keberagaman harus menghasilkan sesuatu yang lebih penting daripada sekadar foto bersama dengan latar belakang laut.
“Harapannya tentu ada hal-hal positif yang dihasilkan dari kegiatan ini, selain semakin mengukuhkan silaturahmi dan kerukunan warga di Kampung Sengon,” ujar Regi.
Ia juga berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan pada tahun-tahun mendatang dengan keterlibatan warga yang semakin luas.
Pantai yang indah dan bersih di kawasan Anyer menjadi ruang perjumpaan yang berbeda dari keseharian warga. Tidak ada sekat antara ketua RW, ketua RT, tokoh masyarakat, kader, pemuda dan warga. Semua melebur dalam suasana santai.
Berbagai kegiatan digelar, mulai dari permainan tim, live music hingga diskusi antarwarga.
Permainan tim menjadi semacam pengingat sederhana bahwa menyelesaikan sesuatu bersama-sama memang membutuhkan kerja sama. Yang terlalu serius bisa ditertawakan, yang terlalu santai bisa diajak bergerak. Sebab dalam kehidupan bermasyarakat, kadang yang diperlukan bukan siapa yang paling hebat, melainkan siapa yang mau ikut mengambil bagian.

Acara diskusi santai sambil menikmati udara pantai yang indah. (Foto : elang)

Begitu pula dengan diskusi antarwarga. Di ruang yang lebih cair, berbagai pikiran dan pengalaman dapat bertemu tanpa harus merasa sedang mengikuti rapat resmi.
Wisata keberagaman pada akhirnya bukan sekadar memindahkan warga dari Depok ke Anyer. Ia memindahkan cara pandang: bahwa tetangga bukan sekadar orang yang rumahnya bersebelahan, tetapi manusia yang perlu dikenal, dihargai dan dirawat hubungan sosialnya.
Sebab kerukunan tidak lahir dari slogan. Ia tumbuh dari perjumpaan yang berulang, dari kesediaan mendengar, dari kesanggupan menghargai perbedaan dan dari kebiasaan sederhana untuk saling menyapa.

Kerukunan dan harmoni warga dengan makan bersama. (Foto : elang)

Dan mungkin, itulah pesan paling menarik dari Kampung Sengon hari itu.
Kalau perbedaan bisa diajak jalan-jalan bersama, mengapa harus selalu dipertentangkan?

Kehebohan ibu-ibu warga RW 10, bernyanyi sambil saweran. (Foto : elang)

Di tengah kehidupan kota yang semakin sibuk dan masyarakat yang semakin beragam, menjaga kerukunan memang membutuhkan kreativitas. Karena kalau warga hanya bertemu ketika ada masalah, jangan heran kalau tetangga lebih hafal suara motornya daripada nama orangnya.
Wisata keberagaman menjadi salah satu cara sederhana untuk merawat modal sosial itu.

Suasana pantai Batu Saung Anyer.

Bukan karena semua warga harus menjadi sama.
Justru karena mereka berbeda, tetapi memilih untuk tetap bersama.
Beragam. Bersatu. Harmonis.
Tiga kata yang terdengar sederhana, tetapi jika benar-benar dijalankan, mungkin jauh lebih ampuh daripada seribu spanduk tentang kerukunan.

s
Penulis: ElangEditor: Muttaqin
Exit mobile version