Catatan Nakal di Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Pagi ini kita menang.
Setidaknya… kita merasa menang.
Takbir menggema. Grup WhatsApp mendadak alim. Status medsos penuh maaf lahir batin, seolah dosa bisa di-clear cache dengan satu klik dan satu caption bijak. Baju baru rapi. Wajah kinclong. Hati? Ya… kita doakan ikut kinclong juga, walau kadang masih buffering.
Ramadhan selesai.
Wisuda sudah.
Foto-foto sudah diambil, secara literal dan spiritual.
Dan seperti biasa, manusia punya kebiasaan unik:
habis lulus, langsung lupa pelajaran.
Padahal, kalau kita mau jujur dan ini agak tidak nyaman…
Ramadhan itu bukan garis finish. Dia itu pusat pelatihan.
Sebulan kita dilatih jadi versi terbaik:
lapar tapi nggak marah
capek tapi tetap ibadah
pengen ngomel tapi ditahan
pengen pamer tapi malu sama Tuhan
Intinya: kita dipaksa jadi manusia yang “lumayan waras”.
Lalu hari ini kita merayakan kelulusan itu.
Sah. Wajar. Bahkan dianjurkan.
Tapi di tengah euforia itu, ada satu surat pendek yang kayak nyelip di telinga kita sambil nyeletuk:
“Udah? Jangan kebanyakan gaya. Istighfar.”
Itu isi dari Surat An-Nashr.
Lucunya begini.
Dalam logika manusia:
kalau menang, kita rayakan, lalu pamer dan update story untuk cari validasi.
Dalam logika langit:
kalau menang maka bertasbih dan istighfar lalu tunduk lagi.
Kayak ditampar pelan:
“Lo menang? Atau cuma dikasih kesempatan buat nggak kalah?”
Coba kita bayangin.
Kalau Ramadhan itu ujian nasional,
maka Idul Fitri ini hari pengumuman kelulusan.
Dan kebanyakan dari kita langsung:
beli baju baru
makan opor level dewa
selfie dengan pose “gue sudah kembali suci™”
Padahal belum tentu kita lulus dengan nilai yang kita kira.
Bisa jadi:
puasanya sah, tapi hatinya bolong
ibadahnya rajin, tapi niatnya bercabang
sedekahnya jalan, tapi egonya ikut numpang lewat
Dan di situlah Surat An-Nashr masuk dengan gaya dingin:
“Kalau kemenangan datang… jangan sibuk selebrasi. Sibuklah membersihkan diri.”
Ini yang menarik,
Allah nggak bilang: “Kalau menang, santai aja. Lo udah aman.”
Nggak.
Justru yang diperintahkan:
tasbih dan sadar siapa yang bikin kita sampai sini
istighfar dan sadar kita masih penuh cacat
Artinya apa?
Semakin dekat kita dengan kemenangan, semakin kita harus curiga sama diri sendiri.
Karena musuh paling licik itu bukan setan yang teriak-teriak,
tapi ego yang bisik-bisik:
“Lo udah lumayan kok. Nggak usah terlalu keras sama diri sendiri.”
Padahal itu awal kemunduran yang halus dan elegan.
Idul Fitri ini unik.
Di satu sisi, kita diminta bahagia.
Di sisi lain, kita disuruh merendah.
Kita saling memaafkan,
tapi sering lupa memeriksa:
apa benar kita juga sudah berdamai dengan diri sendiri, atau cuma menutup-nutupi kesalahan dengan kata maaf?
Kita bilang “kembali suci”,
tapi diam-diam masih menyimpan:
dendam kecil
iri tipis-tipis
dan niat baik yang masih setengah-setengah
Jadi mungkin, Idul Fitri bukan tentang “kembali suci” dalam arti sempurna.
Tapi tentang kembali sadar.
Sadar bahwa:
kita ini rapuh
kita ini sering sok kuat
dan kita ini butuh Tuhan lebih dari yang kita akui
Makanya, kalau hari ini kita takbir,
jangan cuma keras di suara… tapi juga dalam kesadaran.
Allahu Akbar itu bukan sekadar gema,
tapi pengakuan:
“Ya, Engkau lebih besar dari kemenangan yang sedang aku rayakan ini.”
Dan di tengah opor, ketupat, dan obrolan keluarga yang kadang lebih panas dari sambal, kita pelan-pelan diingatkan:
Ramadhan sudah pergi.
Setan sudah kembali kerja.
Dan kita… resmi kembali ke medan tempur bernama kehidupan.
Jadi pertanyaannya sekarang bukan lagi:
“Apakah kita sudah selesai puasa?”
Tapi:
“Apakah kita siap menjaga hasilnya?”
Karena jujur aja, lebih mudah menahan lapar sebulan,
daripada menjaga hati setahun.
Akhirnya, mungkin inilah cara paling jujur merayakan Idul Fitri:
Kita tetap tertawa.
Tetap makan enak.
Tetap silaturahmi.
Tapi di dalam hati, kita bisikkan pelan:
“Ya Allah… kalau ini kemenangan, jangan biarkan aku sombong.
Kalau ini kelulusan, jangan biarkan aku lupa pelajaran.
Dan kalau aku merasa sudah baik… tolong ingatkan aku untuk tetap istighfar.”
Takbir boleh menggema.
Tapi satu hal jangan hilang:
rasa curiga pada diri sendiri… biar kita nggak terlalu cepat merasa jadi orang baik.
@elang
Penulis reflektif & narator isu kemanusiaan dan kebangsaan
