JIFMAC 2026
JIFMAC 2026
IFMAC 2026
Inspirasi

Perjamuan Terakhir: Saat Ramadhan Berkemas Tanpa Banyak Kata

×

Perjamuan Terakhir: Saat Ramadhan Berkemas Tanpa Banyak Kata

Sebarkan artikel ini

Ramadhan hampir selesai.
Tidak ada suara koper ditarik.
Tidak ada pengumuman keberangkatan.
Tidak ada “last call” seperti di bandara.
Tiba-tiba saja… kita sadar:
piring-piring sudah hampir kosong,
kursi mulai lengang,
dan tamu istimewa itu diam-diam berdiri.
Ramadhan tidak pernah ribut saat datang.
Dan ternyata… ia juga tidak ribut saat pergi.

IFMAC 2026

Kita sering menyebut Ramadhan sebagai tamu.
Tapi jujur saja, berapa banyak dari kita yang benar-benar jadi tuan rumah yang layak?
Sebagian sibuk di awal:
niat kuat, target banyak, semangat meledak.
Lalu di tengah, mulai normal lagi.
Di ujung… malah sibuk mikirin baju lebaran, tiket mudik, dan diskon marketplace.
Ramadhan tetap duduk di meja.
Tapi kita yang pelan-pelan meninggalkan perjamuan.

Sementara kita menahan lapar, dunia tetap berisik.
Ada yang kehilangan rumah.
Ada yang kehilangan keluarga.
Ada yang kehilangan harapan… bahkan sebelum sempat berbuka.
Berita nasional penuh tarik-menarik kepentingan.
Berita internasional dipenuhi konflik yang tak kunjung selesai.
Dan di tengah semua itu, Ramadhan datang seperti tamu yang membawa satu pertanyaan sunyi:
“Di antara semua kegaduhan ini, kamu masih ingat jadi manusia?”
Karena puasa bukan cuma soal menahan makan.
Puasa adalah latihan menahan diri dari menjadi… tidak peduli.

Tidak semua yang penting itu viral.
Ada yang diam-diam berubah:
hati yang tadinya keras, mulai retak
ego yang tadinya bising, mulai pelan
doa yang tadinya formalitas, mulai terasa nyata
Tapi ada juga yang jujur harus kita akui:
ada puasa yang hanya berpindah dari lapar ke kenyang
ada ibadah yang hanya berpindah dari rutinitas ke rutinitas
ada malam yang lewat… tanpa benar-benar kita hadiri
Ramadhan tidak menuntut kita sempurna.
Tapi ia diam-diam mencatat:
apakah kita berusaha menjadi lebih manusia, atau sekadar lebih religius di permukaan.

Kita sibuk mencarinya.
Menghitung malam.
Mengejar rasa.
Memburu suasana.
Padahal bisa jadi, malam itu datang seperti angin:
tidak dramatis,
tidak spektakuler,
tidak memberi tanda khusus.
Dan ia mampir… ke hati yang sederhana, tapi konsisten.
Sementara kita?
Masih sibuk memastikan:
“Ini udah feel-nya belum, ya?”
Kadang yang kita cari terlalu megah,
sampai yang sederhana lewat begitu saja.

Kita hidup di negara yang ramai.
Semua orang punya suara.
Semua orang punya opini.
Semua orang ingin benar.
Tapi Ramadhan mengajarkan sesuatu yang jarang kita praktikkan:
diam sejenak sebelum bereaksi.
Bayangkan kalau prinsip puasa ini dibawa ke kehidupan berbangsa:
menahan emosi sebelum berkomentar
menahan ego sebelum menyerang
menahan nafsu sebelum mengambil keputusan
Mungkin negara ini tidak akan kekurangan orang pintar.
Tapi tidak akan kelebihan orang yang… bijak tanpa perlu berisik.

Sekarang kita ada di ujung meja.
Sisa waktu tinggal hitungan hari.
Dan pertanyaannya sederhana, tapi tidak nyaman:
“Apa yang benar-benar kita bawa pulang dari perjamuan ini?”
Apakah hanya kenyang?
Atau kesadaran?
Apakah hanya rutinitas?
Atau perubahan?
Karena Ramadhan tidak butuh kita.
Kitalah yang butuh Ramadhan.
Dan ketika ia pergi,
yang tersisa bukan kenangannya…
tapi dampaknya dalam diri kita.

Mungkin kita tidak perlu doa yang terlalu indah.
Cukup yang jujur.
Ya Allah, kalau tahun ini aku masih banyak bolongnya,
jangan biarkan aku pulang dengan kosong.
Kalau ibadahku masih berisik oleh niat yang campur aduk,
bersihkan pelan-pelan, jangan Kau tolak mentah-mentah.
Kalau aku belum jadi lebih baik,
setidaknya jangan biarkan aku kembali jadi yang lebih buruk.
Dan jika Engkau masih beri umur,
izinkan aku bertemu lagi dengan Ramadhan berikutnya…
bukan sebagai tamu yang bingung,
tapi sebagai hamba yang sudah belajar…
bagaimana menyambut-Mu dengan lebih pantas.

Ramadhan hampir selesai.
Tapi menjadi manusia… tidak punya musim.
Kalau selama sebulan ini kita bisa:
menahan lapar
menahan amarah
menahan ego
maka seharusnya kita juga bisa:
melanjutkannya… tanpa harus menunggu undangan berikutnya.
Karena pada akhirnya,
yang pergi itu Ramadhan.
Jangan sampai yang ikut pergi… adalah versi terbaik dari diri kita.

@elang
Penulis reflektif & narator isu kemanusiaan dan kebangsaan

JIFMAC 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

image