JIFFINA 2026
JIFFINA 2026
JIFFINA 2026
BeritaSosial Budaya

Kidung Rakyat Menggema dari Warkopien

×

Kidung Rakyat Menggema dari Warkopien

Sebarkan artikel ini
JIFFINA 2026

Nada Kecil yang Menyulut Impian Seribu Desa

VENEERKAYU

Jakarta, CITRAMEDIA – Di sebuah sudut Jakarta Selatan, tepatnya di Warkopien, Mampang Prapatan VIII, malam itu musik tidak sekadar diperdengarkan, ia dipanggil pulang. Dipanggil dari ingatan kolektif, dari masa kecil yang hangat, dari nyanyian sederhana yang dulu hidup di beranda rumah dan lapangan kampung. Konser bertajuk “Kidung Rakyat”, sebuah single karya Toto Tewel dengan aransemen musik oleh Bob Marjinal, digelar dengan kesederhanaan yang justru memuliakan maknanya.

Toto Tewel (foto : elang)

Konser ini menjadi titik mula sebuah mimpi besar: membawa kidung, cerita, dan suara rakyat ke 1.000 desa di seluruh Nusantara. Sebuah mimpi yang tidak dibangun dari gedung megah atau tata cahaya berlebihan, melainkan dari keyakinan bahwa musik rakyat selalu menemukan jalannya sendiri melalui telinga, ke hati, lalu menetap sebagai kesadaran.

Bob Marjinal, Fitriansyah, Toto Tewel, Jose. (Foto : elang)

Digelar oleh Kick Off K1kD, panggung kecil di Warkopien malam itu menjadi rumah bersama bagi para musisi yang telah lama menjejak jalan sunyi musik perlawanan dan kejujuran. Anto Baret, Marjinal, Tege Coconut Treez, Jokojoker, Bangzhai, dan Syukron Djamal hadir bukan sekadar tampil, tetapi menyatu menjadi suara yang saling menguatkan, saling menyahut, seperti koor rakyat yang tumbuh alami.

Toto Tewel bersama Widi Lamong. (Foto : Elang)

Menurut Toto Tewel, Kidung Rakyat lahir dari kerinduan yang lama dipendam, kerinduan pada lagu-lagu masa kecil yang kini kian jarang terdengar, tergeser oleh bising zaman dan algoritma. Lagu-lagu yang dulu sederhana, namun sarat nilai; dinyanyikan tanpa panggung, tanpa sorotan, tapi penuh makna. Dari kegelisahan itulah, Kidung Rakyat dijadikan pemantik, agar kearifan lokal kembali bergema di bumi Nusantara, tidak sekadar sebagai nostalgia, melainkan sebagai identitas yang hidup.

Fitriansyah saat ditemui CITRAMEDIA (foto : elang)

Gema itu tidak berhenti di Mampang. Dari warkop kecil ini, inspirasi akan melaju ke berbagai daerah, menjelma dalam beragam perhelatan dengan satu napas yang sama: Konser 1K Desa. Sebuah gerakan yang percaya bahwa desa bukan penonton sejarah, melainkan sumber suara yang layak didengar.
Meski digelar secara sederhana, konser ini tidak kehilangan daya tariknya. Puluhan warga hadir, duduk rapat, berdiri, menyimak, dan larut. Tidak ada jarak antara musisi dan penonton. Semua setara, semua bernyanyi dalam bahasa yang sama: bahasa kegelisahan, harapan, dan cinta pada tanah sendiri.

Malam itu, Kidung Rakyat tidak hanya dinyanyikan. Ia dihidupkan kembali. Seperti api kecil yang dijaga bersama, siap dibawa berkeliling dari kota ke desa, dari satu panggung kecil ke panggung-panggung kehidupan yang lebih luas. Dan dari Warkopien, musik rakyat sekali lagi membuktikan: selama masih ada yang mau mendengar, suara rakyat tak akan pernah benar-benar padam.

JIFFINA 2026
JIFFINA 2026
JIFFINA 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

JIFFINA 2026